Tidak ada sesuatu yang benar-benar sendiri dimuka bumi ini,
Termasuk kamu…
bahkan ketika Tuhan tak mengijinkanmu bertemu dalam sholatmu,
aku akan selalu ada dalam masa haidmu,
menjagamu untuk tidak terlalu jauh dari_Nya...
tak perlu ada yg kau takuti dalam keberadaan,
jangan ada yang kau cemburui didalam ketidak sanggupanmu,
bahkan sorga tidak akan lebih aku cintai sebelum dikau ada didalamnya,
sebagaimana adam tak perna menyukai nikmat sorga itu sebelum hawa ada didalamnya...
wahai wanitaku…
wahai pintu sorgaku…
kita terbuang dari sorga bersama,
dan menemuinya kelak harus bersama…
tak sanggup kutemui Yang Maha Satu,
Tampa sanding engkau sebagai buah tangan…
mana bisa aku sanggup ditemuiNYA sebagai tamu…
sedang yg terserak belum juga tersatukan…
sekali lagi sayang…
aku akan selalu ada bahkan disaat Tuhan tak menginginkanmu...
Selasa, 07 Desember 2010
Minggu, 05 Desember 2010
ANA UHIBBUKI FILLAH
Mengenal ia mungkin memang menjadi satu anugerah untuk aku. Tak sedikitpun aku pungkiri bahwa aku menaruh cukup perhatian padanya. Akhlaknya yang baik, serta parasnya yang cantik sudah cukup rasanya untuk membuat aku jatuh hati padanya. Namun tak sedikit pula aku sadari bahwa mengenal ia menggoyahkan hati hingga secara tidak sadar banyak menghilangkan waktu untuk kembali mengingat-NYA dan menaruh cinta hanya kepada-NYA.
Hingga akhirnya kekekalan cinta padanya pun mulai goyah atas pilihan cinta yang menghadapnya, aku sadar bukan ini ‘cinta’ yang sebenarnya. Cinta karena ALLAH memang cinta yang mulia, namun sampai diri ini belum mampu menjadi insan yang mulia tak layak rasanya diri ini menjemput anugerah cinta karena-NYA. Istighfar senantiasa terucap mengingat kembali khilaf yang selama ini ada. Berharap selalu semoga ALLAH membimbing qolbuku.
Tulisan ini mungkin menjadi awal putusnya pengharapan besarku atas cintanya, sekaligus menjadi awal pengharapan besar cintaku hanya pada-NYA dan cintaku hanya karena-NYA.
Biarlah ia memilih dan menjemput cintanya, seraya meyakinkan diri bahwa mereka memang lebih baik dariku. Semoga ALLAH memberikan cinta terbaik untuknya melebihi cintaku kepadanya selama masa telah berada.
Syukurku senantiasa terucap atas anugerah cintaku padanya walau mungkin hanya di tepian hatinya saja. Jazakumullah untuknya telah memberi tempat dan masa untuk aku merasakan anugerah cinta walau hanya sepercik saja.
Semoga dirinya senantiasa berada dalam naungan cinta-NYA.
Walau tak sanggup menggapainya...
“ANA UHIBBUKI FILLAH…!!!”
Hingga akhirnya kekekalan cinta padanya pun mulai goyah atas pilihan cinta yang menghadapnya, aku sadar bukan ini ‘cinta’ yang sebenarnya. Cinta karena ALLAH memang cinta yang mulia, namun sampai diri ini belum mampu menjadi insan yang mulia tak layak rasanya diri ini menjemput anugerah cinta karena-NYA. Istighfar senantiasa terucap mengingat kembali khilaf yang selama ini ada. Berharap selalu semoga ALLAH membimbing qolbuku.
Tulisan ini mungkin menjadi awal putusnya pengharapan besarku atas cintanya, sekaligus menjadi awal pengharapan besar cintaku hanya pada-NYA dan cintaku hanya karena-NYA.
Biarlah ia memilih dan menjemput cintanya, seraya meyakinkan diri bahwa mereka memang lebih baik dariku. Semoga ALLAH memberikan cinta terbaik untuknya melebihi cintaku kepadanya selama masa telah berada.
Syukurku senantiasa terucap atas anugerah cintaku padanya walau mungkin hanya di tepian hatinya saja. Jazakumullah untuknya telah memberi tempat dan masa untuk aku merasakan anugerah cinta walau hanya sepercik saja.
Semoga dirinya senantiasa berada dalam naungan cinta-NYA.
Walau tak sanggup menggapainya...
“ANA UHIBBUKI FILLAH…!!!”
Sabtu, 04 Desember 2010
SHAUTUD DLOMIR
*
Sesuatu yang akan selalu aku dapatkan setiap menatap selembar senyumu yang tergeletak diantara pintu waktu dan ruang imajinasiku yang buta, adalah kata “aku sangat menyayangimu”
*
Aku akan hidup untuk setiap permintaanmu
Aku akan selalu berdiri berkalang hari, dan mengambil saripati dunia untukmu
Andai yang setangkup aku berikan, tak cukup untukmu
Maka besok akan kuambil lebih banyak, untuk kata puasmu
*
Telah cukup bagiku kebisuan malam, saat tanpamu
Rindu menjadi seperti racun, dan semacam duri dalam campuranya
Meremah naluri dan memecahkan hati, kosong, sepi, hancur dan beku
*
Aku terbenam jauh dalam fikiran-fikiran dan renungan-renungan terus berusaha memahami makna kecupan alam dan puisi-puisi malam ketika namamu menjadi sajak yang terus memberikan kata-kata yang sulit kupahami.
*
Inilah cinta yang sedang kurasakan
yang menjadi tanda titik setelah mengganti tanda koma, tanda tanya, dalam hidupku
*
Penembang-penembang kidung lara hati telah aku mohon untuk berhenti bernyanyi, karena sejuta peri-peri cinta sudah memainkan harpa-harpanya, inilah Shautud Dhlomiir (Suara Hati)
Al Mutaqsidah terindah, demi penghambaan yang agung
*
Elegi-elegi pahit dan romansa-romansa hitam yang dulu memulas awan hidupku, berlalulah, karena cinta sudah mengguratkan penanya dihati dan wajahku, memahat nuraniku menjadi sukacita yang panjang, sudah kutuwai semuanya dalam lingkarang Mahabbah Illallah.
*
Untuk seteguk cinta aku akan selalu tersenyum, demi setangkup rindu aku akan selalu berharap ini indah, untuk sehembus angin cinta yang menyurutkan air mata, dan mengganti dukalara menjadi sukacita, aku akan selalu sadar dan diatas syahadat-Mu yang suci sungguh “Aku teramat mencintaimu”
Demi Kehidupan, demi ASHAUTUD DLOMIR (Suara Hati).
Sesuatu yang akan selalu aku dapatkan setiap menatap selembar senyumu yang tergeletak diantara pintu waktu dan ruang imajinasiku yang buta, adalah kata “aku sangat menyayangimu”
*
Aku akan hidup untuk setiap permintaanmu
Aku akan selalu berdiri berkalang hari, dan mengambil saripati dunia untukmu
Andai yang setangkup aku berikan, tak cukup untukmu
Maka besok akan kuambil lebih banyak, untuk kata puasmu
*
Telah cukup bagiku kebisuan malam, saat tanpamu
Rindu menjadi seperti racun, dan semacam duri dalam campuranya
Meremah naluri dan memecahkan hati, kosong, sepi, hancur dan beku
*
Aku terbenam jauh dalam fikiran-fikiran dan renungan-renungan terus berusaha memahami makna kecupan alam dan puisi-puisi malam ketika namamu menjadi sajak yang terus memberikan kata-kata yang sulit kupahami.
*
Inilah cinta yang sedang kurasakan
yang menjadi tanda titik setelah mengganti tanda koma, tanda tanya, dalam hidupku
*
Penembang-penembang kidung lara hati telah aku mohon untuk berhenti bernyanyi, karena sejuta peri-peri cinta sudah memainkan harpa-harpanya, inilah Shautud Dhlomiir (Suara Hati)
Al Mutaqsidah terindah, demi penghambaan yang agung
*
Elegi-elegi pahit dan romansa-romansa hitam yang dulu memulas awan hidupku, berlalulah, karena cinta sudah mengguratkan penanya dihati dan wajahku, memahat nuraniku menjadi sukacita yang panjang, sudah kutuwai semuanya dalam lingkarang Mahabbah Illallah.
*
Untuk seteguk cinta aku akan selalu tersenyum, demi setangkup rindu aku akan selalu berharap ini indah, untuk sehembus angin cinta yang menyurutkan air mata, dan mengganti dukalara menjadi sukacita, aku akan selalu sadar dan diatas syahadat-Mu yang suci sungguh “Aku teramat mencintaimu”
Demi Kehidupan, demi ASHAUTUD DLOMIR (Suara Hati).
Fiil-Ardh’i Wa Sammawath
*
Kau mengukir pada hatiku yang paripurna
Agar Cinta-Mu mencukupi segalanya
Masih kuambil ciuman itu dari Bibir-Mu
Jika Ke-illahian-Mu pernah ditanyakan dalam keraguan separuh manusia
Merekalah yang tak mengerti tentang cinta-Mu
*
Biarkanlah lagu itu aku nyanyikan
Lagu yang pernah Kau Bisikan pada Al-Hallaj
Kau titipkan syairnya pada Abu Sa’id
Yang tersering ditembangkan Rumi
Lalu kami saling Sama” bersama larut dalam syair dan nyanyian itu
*
Kepada-Mu semua hati ini berlanjut
Di Langit Kau rajut, di Bumi Meyambut
Garuhlah kegundahanku dengan Tangan-tangan-Mu yang lembut
Anggur itu pada hatiku, adalah tanda cinta-Mu
*
Dalam perjalanan cinta ini, di Langit dan Bumi
Kezuhudan dalam tarian yang tak pernah kumengerti
Atau Tarikan nafas dari do’a kami
yang selalu jatuh diatas hariba’an-Mu
*
Perundingan dibawah bumi yang paling Mulia adalah yang ditengahnya menceritakan Ke-Esa-anMu
Sedangkan semua cinta ini masih milik hati yang satu
dan segala Pelukan-Mu, akan kami damba selalu
Dalam perjalanan cinta ini...
Fiil Ardhi Waa Sammawath (Di Langit dan Bumi)
Hanya mengharapkan satu Cinta-Mu..
Kau mengukir pada hatiku yang paripurna
Agar Cinta-Mu mencukupi segalanya
Masih kuambil ciuman itu dari Bibir-Mu
Jika Ke-illahian-Mu pernah ditanyakan dalam keraguan separuh manusia
Merekalah yang tak mengerti tentang cinta-Mu
*
Biarkanlah lagu itu aku nyanyikan
Lagu yang pernah Kau Bisikan pada Al-Hallaj
Kau titipkan syairnya pada Abu Sa’id
Yang tersering ditembangkan Rumi
Lalu kami saling Sama” bersama larut dalam syair dan nyanyian itu
*
Kepada-Mu semua hati ini berlanjut
Di Langit Kau rajut, di Bumi Meyambut
Garuhlah kegundahanku dengan Tangan-tangan-Mu yang lembut
Anggur itu pada hatiku, adalah tanda cinta-Mu
*
Dalam perjalanan cinta ini, di Langit dan Bumi
Kezuhudan dalam tarian yang tak pernah kumengerti
Atau Tarikan nafas dari do’a kami
yang selalu jatuh diatas hariba’an-Mu
*
Perundingan dibawah bumi yang paling Mulia adalah yang ditengahnya menceritakan Ke-Esa-anMu
Sedangkan semua cinta ini masih milik hati yang satu
dan segala Pelukan-Mu, akan kami damba selalu
Dalam perjalanan cinta ini...
Fiil Ardhi Waa Sammawath (Di Langit dan Bumi)
Hanya mengharapkan satu Cinta-Mu..
Sabtu, 20 November 2010
AMBIL SEJUMPUT RAYUKU DAN JADIKAN ANTING DITELINGAMU
hai non....
ambil sejumput rayuku jadikan anting ditelingamu…
tetaplah disamping…
karna kau takkan terkesampingkan…
apa yg kau takutkan dari pencarianku kedepan…?
bukankah tetap untukmu yg disamping…
bukankah masih juga untuk menemukanmu berada samping…?
aku hanya tak ingin menjadi kafir dengan mengingatmu…
melebihi 5 waktu yang diminta Tuhan…
untuk itu dikau kuataruh disamping…
hingga tak perlu lagi diri membayangkanmu…
cukup kugenggam jemari karna kau tepat disamping…
jadilah pembantu hatiku…
karena disana singgasana Tuhan…
doaku ribuan tahun taK akan bersambung…
jika engkau tak berbisik hal yg sama dihatiku…
karna kau ada bersama Tuhan…
karna engkau lebih disayang Tuhan…
semenjak menghuni hatiku…
simpan sejumput rayuku jadikan anting ditelingamu…
ambil sejumput rayuku jadikan anting ditelingamu…
tetaplah disamping…
karna kau takkan terkesampingkan…
apa yg kau takutkan dari pencarianku kedepan…?
bukankah tetap untukmu yg disamping…
bukankah masih juga untuk menemukanmu berada samping…?
aku hanya tak ingin menjadi kafir dengan mengingatmu…
melebihi 5 waktu yang diminta Tuhan…
untuk itu dikau kuataruh disamping…
hingga tak perlu lagi diri membayangkanmu…
cukup kugenggam jemari karna kau tepat disamping…
jadilah pembantu hatiku…
karena disana singgasana Tuhan…
doaku ribuan tahun taK akan bersambung…
jika engkau tak berbisik hal yg sama dihatiku…
karna kau ada bersama Tuhan…
karna engkau lebih disayang Tuhan…
semenjak menghuni hatiku…
simpan sejumput rayuku jadikan anting ditelingamu…
SEBUAH JANJI
aku tak ingin menjadi mtahari,
yang hanya bisa memberimu cahaya dari kejauhan
dan akan membakarmu bila aku mendekat...
aku tak ingn menjdi bunga
yang hanya bisa mengharumkanmu saat aku mekar
dan kemudian layu kala kamu petik...
tapi aku akan menjadi udara,, yg akan selalu ada di sisimu
dan dalam setiap tarikan nafasmu...
aku tak ingin menjadi bintang
yang hanya akan menerangi langkahmu saat malam datang
dan lenyap bila pagi menjelang...l
aku tak ingn menjadi kumbang
yang hanya bisa menghisap sari mu
dan akan pergi ketika kamu layu...
tapi aku akan menjadi darah
yang akan selalu mengalir dalam tubuhmu
dan tak akan berhenti hingga nanti kau mati..
aku akan selalu menemani alngkahmu dalam suka & duka mu...
yang hanya bisa memberimu cahaya dari kejauhan
dan akan membakarmu bila aku mendekat...
aku tak ingn menjdi bunga
yang hanya bisa mengharumkanmu saat aku mekar
dan kemudian layu kala kamu petik...
tapi aku akan menjadi udara,, yg akan selalu ada di sisimu
dan dalam setiap tarikan nafasmu...
aku tak ingin menjadi bintang
yang hanya akan menerangi langkahmu saat malam datang
dan lenyap bila pagi menjelang...l
aku tak ingn menjadi kumbang
yang hanya bisa menghisap sari mu
dan akan pergi ketika kamu layu...
tapi aku akan menjadi darah
yang akan selalu mengalir dalam tubuhmu
dan tak akan berhenti hingga nanti kau mati..
aku akan selalu menemani alngkahmu dalam suka & duka mu...
Kamis, 18 November 2010
Al-Habibbah An-Nafaa
“Sudahlah tutup saja, cukuplah... kubuang semua, segala pengharapan, semua keinginan”
* Aku titipkan semua air mataku pada hujan
sekarang angin menggiringnya menuju samudra luas
kekasih ketahuilah semua penderitaanku
aku terjatuh apa kau pun merasakanya...
* Semenit yang lalu suara berlalu “Maafkan aku”
ucapanmu itu jatuh berulang kali dari bibir yang kau anggap seperti scawan anggur untuk menenangkanku, tapi semakin kau mengatakanya kau tak sadar sedang mengirimkanku ke alam gulita yang tak pernah kutahu, semakin dalam.
* Suara yang sama masih mendengung ditelingaku, itulah ucapan “Selamat pagimu” yang menggetarkan seluruh dinding hatiku, sejenak senyum tersungging dibibirku, dan seluruh alam bersaksi dan jiwaku berkata Na’am Ya Allah i’tadzhiru bawaadiul kalimati bi khoiri
* Keramahan dan senyummu yang menariku jatuh jauh kedalam lamunan yang dalam, sedang segala arti perasaan ini menjadi Rahasia-Nya, dalam artian-artian yang sulit aku ingin terlelap lebih dalam lagi dan tak ingin terbangun dari ruang hatimu.
* Tolong mengertilah... aku hanya ingin membaca setiap gelisahmu, saat kau sakit aku ingin merasakan hal yang sama, dan saat kau terbang dengan sayap-sayapmu yang sukacita, aku menatap dengan mata khawatirku dari ujung bumi.
* Semua sederhana bagimu, tapi pengacuhanmu adalah rumus yang aneh dan sulit untuk dinalarkan, kepedulianmu pada rasa sakit yang kurasakan, lebih menyakitkan dari pada batu-batu yang merajam laskar laknat Abu Lahab..
* Kau membuangku jauh dalam jurang-jurang pengacuhan yang gulita, tak satupun hidangan cinta yang kuberikan kau makan, bisakah hatimu merasakan kehancuran ini? sekuncup hati yang telah kuberikan penuh untukmu kau buang jauh dengan “Al Ahsanu, anaa wa antum bi sohiibi faqoth”..
* Tak satupun nada kutemukan untuk kurangkai menjadi lagu untuk menembangkan semua kehancuran ini, pengacuhan ini tak membagikan apapun kecuali kegundahan yang memulas dnding2nya..
* Sampai aku rasakan hidupku benar-benar kosong, sampai pada daun yang jatuh diatas kakiku pun menangis tak berikhwal seperti dulu..
*Apalagi yang hendak kupilih Ya Allah...
syurga mencampakanku atau neraka yang menerimaku dengan penyiksaanya..??
Anaa Al-habibbah Al-Nafaa...
Akulah Kekasih Yang Dibuang...
* Aku titipkan semua air mataku pada hujan
sekarang angin menggiringnya menuju samudra luas
kekasih ketahuilah semua penderitaanku
aku terjatuh apa kau pun merasakanya...
* Semenit yang lalu suara berlalu “Maafkan aku”
ucapanmu itu jatuh berulang kali dari bibir yang kau anggap seperti scawan anggur untuk menenangkanku, tapi semakin kau mengatakanya kau tak sadar sedang mengirimkanku ke alam gulita yang tak pernah kutahu, semakin dalam.
* Suara yang sama masih mendengung ditelingaku, itulah ucapan “Selamat pagimu” yang menggetarkan seluruh dinding hatiku, sejenak senyum tersungging dibibirku, dan seluruh alam bersaksi dan jiwaku berkata Na’am Ya Allah i’tadzhiru bawaadiul kalimati bi khoiri
* Keramahan dan senyummu yang menariku jatuh jauh kedalam lamunan yang dalam, sedang segala arti perasaan ini menjadi Rahasia-Nya, dalam artian-artian yang sulit aku ingin terlelap lebih dalam lagi dan tak ingin terbangun dari ruang hatimu.
* Tolong mengertilah... aku hanya ingin membaca setiap gelisahmu, saat kau sakit aku ingin merasakan hal yang sama, dan saat kau terbang dengan sayap-sayapmu yang sukacita, aku menatap dengan mata khawatirku dari ujung bumi.
* Semua sederhana bagimu, tapi pengacuhanmu adalah rumus yang aneh dan sulit untuk dinalarkan, kepedulianmu pada rasa sakit yang kurasakan, lebih menyakitkan dari pada batu-batu yang merajam laskar laknat Abu Lahab..
* Kau membuangku jauh dalam jurang-jurang pengacuhan yang gulita, tak satupun hidangan cinta yang kuberikan kau makan, bisakah hatimu merasakan kehancuran ini? sekuncup hati yang telah kuberikan penuh untukmu kau buang jauh dengan “Al Ahsanu, anaa wa antum bi sohiibi faqoth”..
* Tak satupun nada kutemukan untuk kurangkai menjadi lagu untuk menembangkan semua kehancuran ini, pengacuhan ini tak membagikan apapun kecuali kegundahan yang memulas dnding2nya..
* Sampai aku rasakan hidupku benar-benar kosong, sampai pada daun yang jatuh diatas kakiku pun menangis tak berikhwal seperti dulu..
*Apalagi yang hendak kupilih Ya Allah...
syurga mencampakanku atau neraka yang menerimaku dengan penyiksaanya..??
Anaa Al-habibbah Al-Nafaa...
Akulah Kekasih Yang Dibuang...
Langganan:
Postingan (Atom)