hai non....
ambil sejumput rayuku jadikan anting ditelingamu…
tetaplah disamping…
karna kau takkan terkesampingkan…
apa yg kau takutkan dari pencarianku kedepan…?
bukankah tetap untukmu yg disamping…
bukankah masih juga untuk menemukanmu berada samping…?
aku hanya tak ingin menjadi kafir dengan mengingatmu…
melebihi 5 waktu yang diminta Tuhan…
untuk itu dikau kuataruh disamping…
hingga tak perlu lagi diri membayangkanmu…
cukup kugenggam jemari karna kau tepat disamping…
jadilah pembantu hatiku…
karena disana singgasana Tuhan…
doaku ribuan tahun taK akan bersambung…
jika engkau tak berbisik hal yg sama dihatiku…
karna kau ada bersama Tuhan…
karna engkau lebih disayang Tuhan…
semenjak menghuni hatiku…
simpan sejumput rayuku jadikan anting ditelingamu…
Sabtu, 20 November 2010
SEBUAH JANJI
aku tak ingin menjadi mtahari,
yang hanya bisa memberimu cahaya dari kejauhan
dan akan membakarmu bila aku mendekat...
aku tak ingn menjdi bunga
yang hanya bisa mengharumkanmu saat aku mekar
dan kemudian layu kala kamu petik...
tapi aku akan menjadi udara,, yg akan selalu ada di sisimu
dan dalam setiap tarikan nafasmu...
aku tak ingin menjadi bintang
yang hanya akan menerangi langkahmu saat malam datang
dan lenyap bila pagi menjelang...l
aku tak ingn menjadi kumbang
yang hanya bisa menghisap sari mu
dan akan pergi ketika kamu layu...
tapi aku akan menjadi darah
yang akan selalu mengalir dalam tubuhmu
dan tak akan berhenti hingga nanti kau mati..
aku akan selalu menemani alngkahmu dalam suka & duka mu...
yang hanya bisa memberimu cahaya dari kejauhan
dan akan membakarmu bila aku mendekat...
aku tak ingn menjdi bunga
yang hanya bisa mengharumkanmu saat aku mekar
dan kemudian layu kala kamu petik...
tapi aku akan menjadi udara,, yg akan selalu ada di sisimu
dan dalam setiap tarikan nafasmu...
aku tak ingin menjadi bintang
yang hanya akan menerangi langkahmu saat malam datang
dan lenyap bila pagi menjelang...l
aku tak ingn menjadi kumbang
yang hanya bisa menghisap sari mu
dan akan pergi ketika kamu layu...
tapi aku akan menjadi darah
yang akan selalu mengalir dalam tubuhmu
dan tak akan berhenti hingga nanti kau mati..
aku akan selalu menemani alngkahmu dalam suka & duka mu...
Kamis, 18 November 2010
Al-Habibbah An-Nafaa
“Sudahlah tutup saja, cukuplah... kubuang semua, segala pengharapan, semua keinginan”
* Aku titipkan semua air mataku pada hujan
sekarang angin menggiringnya menuju samudra luas
kekasih ketahuilah semua penderitaanku
aku terjatuh apa kau pun merasakanya...
* Semenit yang lalu suara berlalu “Maafkan aku”
ucapanmu itu jatuh berulang kali dari bibir yang kau anggap seperti scawan anggur untuk menenangkanku, tapi semakin kau mengatakanya kau tak sadar sedang mengirimkanku ke alam gulita yang tak pernah kutahu, semakin dalam.
* Suara yang sama masih mendengung ditelingaku, itulah ucapan “Selamat pagimu” yang menggetarkan seluruh dinding hatiku, sejenak senyum tersungging dibibirku, dan seluruh alam bersaksi dan jiwaku berkata Na’am Ya Allah i’tadzhiru bawaadiul kalimati bi khoiri
* Keramahan dan senyummu yang menariku jatuh jauh kedalam lamunan yang dalam, sedang segala arti perasaan ini menjadi Rahasia-Nya, dalam artian-artian yang sulit aku ingin terlelap lebih dalam lagi dan tak ingin terbangun dari ruang hatimu.
* Tolong mengertilah... aku hanya ingin membaca setiap gelisahmu, saat kau sakit aku ingin merasakan hal yang sama, dan saat kau terbang dengan sayap-sayapmu yang sukacita, aku menatap dengan mata khawatirku dari ujung bumi.
* Semua sederhana bagimu, tapi pengacuhanmu adalah rumus yang aneh dan sulit untuk dinalarkan, kepedulianmu pada rasa sakit yang kurasakan, lebih menyakitkan dari pada batu-batu yang merajam laskar laknat Abu Lahab..
* Kau membuangku jauh dalam jurang-jurang pengacuhan yang gulita, tak satupun hidangan cinta yang kuberikan kau makan, bisakah hatimu merasakan kehancuran ini? sekuncup hati yang telah kuberikan penuh untukmu kau buang jauh dengan “Al Ahsanu, anaa wa antum bi sohiibi faqoth”..
* Tak satupun nada kutemukan untuk kurangkai menjadi lagu untuk menembangkan semua kehancuran ini, pengacuhan ini tak membagikan apapun kecuali kegundahan yang memulas dnding2nya..
* Sampai aku rasakan hidupku benar-benar kosong, sampai pada daun yang jatuh diatas kakiku pun menangis tak berikhwal seperti dulu..
*Apalagi yang hendak kupilih Ya Allah...
syurga mencampakanku atau neraka yang menerimaku dengan penyiksaanya..??
Anaa Al-habibbah Al-Nafaa...
Akulah Kekasih Yang Dibuang...
* Aku titipkan semua air mataku pada hujan
sekarang angin menggiringnya menuju samudra luas
kekasih ketahuilah semua penderitaanku
aku terjatuh apa kau pun merasakanya...
* Semenit yang lalu suara berlalu “Maafkan aku”
ucapanmu itu jatuh berulang kali dari bibir yang kau anggap seperti scawan anggur untuk menenangkanku, tapi semakin kau mengatakanya kau tak sadar sedang mengirimkanku ke alam gulita yang tak pernah kutahu, semakin dalam.
* Suara yang sama masih mendengung ditelingaku, itulah ucapan “Selamat pagimu” yang menggetarkan seluruh dinding hatiku, sejenak senyum tersungging dibibirku, dan seluruh alam bersaksi dan jiwaku berkata Na’am Ya Allah i’tadzhiru bawaadiul kalimati bi khoiri
* Keramahan dan senyummu yang menariku jatuh jauh kedalam lamunan yang dalam, sedang segala arti perasaan ini menjadi Rahasia-Nya, dalam artian-artian yang sulit aku ingin terlelap lebih dalam lagi dan tak ingin terbangun dari ruang hatimu.
* Tolong mengertilah... aku hanya ingin membaca setiap gelisahmu, saat kau sakit aku ingin merasakan hal yang sama, dan saat kau terbang dengan sayap-sayapmu yang sukacita, aku menatap dengan mata khawatirku dari ujung bumi.
* Semua sederhana bagimu, tapi pengacuhanmu adalah rumus yang aneh dan sulit untuk dinalarkan, kepedulianmu pada rasa sakit yang kurasakan, lebih menyakitkan dari pada batu-batu yang merajam laskar laknat Abu Lahab..
* Kau membuangku jauh dalam jurang-jurang pengacuhan yang gulita, tak satupun hidangan cinta yang kuberikan kau makan, bisakah hatimu merasakan kehancuran ini? sekuncup hati yang telah kuberikan penuh untukmu kau buang jauh dengan “Al Ahsanu, anaa wa antum bi sohiibi faqoth”..
* Tak satupun nada kutemukan untuk kurangkai menjadi lagu untuk menembangkan semua kehancuran ini, pengacuhan ini tak membagikan apapun kecuali kegundahan yang memulas dnding2nya..
* Sampai aku rasakan hidupku benar-benar kosong, sampai pada daun yang jatuh diatas kakiku pun menangis tak berikhwal seperti dulu..
*Apalagi yang hendak kupilih Ya Allah...
syurga mencampakanku atau neraka yang menerimaku dengan penyiksaanya..??
Anaa Al-habibbah Al-Nafaa...
Akulah Kekasih Yang Dibuang...
Minggu, 17 Oktober 2010
WANITA, APA YANG KAMU CARI DARI LELAKI
Terkadang saya bingung sendiri kalau memikirkan apa sebenarnya yang dicari para wanita dari seorang lelaki. Banyak yang berpendapat makhluk yang satu ini lebih sering membawa beban masalah bagi kaum wanita ketimbang kebahagiaan… Mereka seenaknya menguasai dunia dan menuntut wanita harus menuruti kehendak mereka yang seringkali semena-mena.
Betapa tidak, kaum adam ini memiliki tiga hal yang kalau terkombinasi menjadi sesuatu yang mengerikan…!
Pertama, kaum lelaki memiliki sifat egois Mereka seperti anak kecil yang maunya menang sendiri, maunya senantiasa diperhatikan atau menjadi pusat perhatian di lingkungan kecil yang mereka kuasai...
Kedua, kaum adam ini punya sifat arogan Mereka adalah makhluk yang tidak mudah menerima dirinya lebih rendah dari lawan jenisnya. Mereka juga tidak bisa menerima ada penantang dan penentang disekitarnya. Kalau ada yang menantang mereka lebih memilih tak meladeninya dan mengabaikannya saja...
Tentunya kita sepakat bahwa kedua sifat diatas, egois dan arogan, adalah sifat buruk dan tak seorangpun yang suka memiliki kawan yang memiliki kedua sifat itu.
Hal ketiga yang dimiliki oleh kaum lelaki adalah otot mereka yang lebih besar dan lebih kuat dibandingkan dengan lawan jenis mereka. Soal berotot ini sebenarnya bisa menjadi hal yang positif, tetapi masalahnya menjadi lain apabila dikombinasikan dengan kedua sifat buruk diatas.
Bayangkan, orang dengan sifat arogan dan egois tetapi memiliki kekuatan yang lebih besar. Tak heran bila hampir di semua masyarakat di berbagai belahan dunia, sistem sosialnya dibangun untuk keuntungan kelompok lelaki. Tentu karena arogansi dan egoistis mereka dengan bermodalkan kekeuatan fisik itulah yang membuat mereka mampu mendikte sistem yang hanya menguntungkan kaumnya.
Egois, arogan dan kuat... wuih, sungguh mengerikan...!!! Itulah sebabnya saya tidak pernah suka dengan lelaki...!!!
Dan, karena itu pula saya sering bingung kok ada wanita yang tergila-gila dengan seorang lelaki. Apa sih yang sebenarnya mereka cari..??
Betapa tidak, kaum adam ini memiliki tiga hal yang kalau terkombinasi menjadi sesuatu yang mengerikan…!
Pertama, kaum lelaki memiliki sifat egois Mereka seperti anak kecil yang maunya menang sendiri, maunya senantiasa diperhatikan atau menjadi pusat perhatian di lingkungan kecil yang mereka kuasai...
Kedua, kaum adam ini punya sifat arogan Mereka adalah makhluk yang tidak mudah menerima dirinya lebih rendah dari lawan jenisnya. Mereka juga tidak bisa menerima ada penantang dan penentang disekitarnya. Kalau ada yang menantang mereka lebih memilih tak meladeninya dan mengabaikannya saja...
Tentunya kita sepakat bahwa kedua sifat diatas, egois dan arogan, adalah sifat buruk dan tak seorangpun yang suka memiliki kawan yang memiliki kedua sifat itu.
Hal ketiga yang dimiliki oleh kaum lelaki adalah otot mereka yang lebih besar dan lebih kuat dibandingkan dengan lawan jenis mereka. Soal berotot ini sebenarnya bisa menjadi hal yang positif, tetapi masalahnya menjadi lain apabila dikombinasikan dengan kedua sifat buruk diatas.
Bayangkan, orang dengan sifat arogan dan egois tetapi memiliki kekuatan yang lebih besar. Tak heran bila hampir di semua masyarakat di berbagai belahan dunia, sistem sosialnya dibangun untuk keuntungan kelompok lelaki. Tentu karena arogansi dan egoistis mereka dengan bermodalkan kekeuatan fisik itulah yang membuat mereka mampu mendikte sistem yang hanya menguntungkan kaumnya.
Egois, arogan dan kuat... wuih, sungguh mengerikan...!!! Itulah sebabnya saya tidak pernah suka dengan lelaki...!!!
Dan, karena itu pula saya sering bingung kok ada wanita yang tergila-gila dengan seorang lelaki. Apa sih yang sebenarnya mereka cari..??
Kamis, 14 Oktober 2010
KESEJAHTERAAN BUKAN ALASAN UNTUK TIDAK PROFESIONAL
Wacana pemberian remunerasi kepada PNS dan bahkan sudah di uji coba di beberapa instansi sepertinya perlu di kaji ulang mengingat selain menambah beban APBN dan juga ternyata pemberian remunerasi tidak selalu berbanding lurus dengan kinerja pegawai yang mendapatkan remunerasi tersebut.
Remunerasi yang secara langsung akan menambah penghasilan PNS yang pastinya akan membuat Animo peminat PNS akan bertambah dari tahun - tahun ini akan secara tidak langsung mempengaruhi psikologis angkatan kerja kita bahwa menjadi PNS menjadi segalanya.
Fenomena menjadi PNS telah melekat di masyarakat kita yang berlomba - lomba mengikuti seleksi menjadi PNS, ini menarik di cermati pemerintah bahwa menjadi PNS dengan segala motivasinya yang melekat pada pribadi masing-masing individu.
Seharusnya pekerjaan PNS dijadikan sarana untuk pengabdian terhadap bangsa dan negara ini. seolah-olah dengan adanya aturan remunerasi PNS baru bekerja keras kalau sudah mendapatkan pendapatan yang besar. padahal mereka seharusnya sebelum mengikuti seleksi secara sadar tahu akan konsekuensi menjadi PNS. Dengan mengetahui konsekuensi menjadi PNS, apakah pantas kesejahteraan menjadi alasan untuk tidak professional..??
Menjadi PNS harus siap menjadi abdi masyarakat, harus siap menjadi pelayan masyarakat, harus siap untuk menjaga segala tingkah laku dan sikap di hadapan masyarakat. Tidak bisa semena-mena dan arogan kepada rakyat ataupun merasa lebih dari masyarakat terutama rakyat kecil.
Menjadi PNS tidak sekedar datang pagi-pagi jam 7 untuk apel pagi lalu nongkrong di warung dan setelah agak siang tidur di mushola dan jam 3 sudah bersiap untuk pulang dan bila diberi pekerjaan memilah milah mana pekerjaan yang ada uangnya dan mana yang tidak.
Sekali lagi bukan itu tujuan menjadi PNS.
Seragam PNS bukan dipakai untuk petentang petenteng. Seragam PNS adalah tanggung jawab besar untuk Negara dan Rakyat yang membayar. Bahkan menjadi Pejabat Birokrasi, semakin tinggi jabatannya berarti semakin besar pelayanan yang diberikan untuk Negara, Masyarakat hingga bawahannya, bukan malah sebaliknya.
Saya menunduk hormat untuk PNS yang bersedia berbakti pada masyarakat, para guru dan tenaga medis di tempat terpencil yang dengan segala keterbatasannya tetap mengabdi untuk masyarakat. Untuk GTT dan PTT yang juga mengabdi penuh pada masyarakat janganlah menjadi PNS menjadi tujuan utama anda, karena niat dan kerja anda yang mulia kelak akan tercoreng pada niat materiil semata. Hati masyarakat yang terbantu oleh pengabdian andalah yang akan selalu membuat anda lebih mulia dan terhormat.
Dari logo KORPRI yang dipakai sebagai lencana didada kiri PNS terdapat satu kalimat yang cukup magis : ABDI NEGARA. Kalimat tersebut ingin menunjukkan bahwa KORPRI adalah wadah dari para pengabdi negara. ABDI NEGARA tidak dapat dipahami hanya sebagai abdi dari pemerintah. PNS perlu memahami bahwa unsur dari negara bukan hanya Pemerintah tapi juga warga negara. Pengertian Abdi Negara bukan berarti kekuasaan tapi malah sebaliknya pelayanan . Pelayanan kepada Negara yang berisi Pemerintah, Warga Negara , Wilayah dan unsur-unsur lainnya.
Tidak ada tempat bagi seorang Abdi Negara, apalagi dalam Negara Kesatuan RI ,untuk menjadi seorang penguasa. Seluruh elemen bangsa ini adalah Abdi Negara. Cerminan yang paling kasat mata adalah refleksi APBN. Elemen bangsa ini harus berbangga karena APBN RI lebih dari 70% telah didanai dari Pajak. Artinya setiap anak bangsa mempunyai peran dan andil dalam membangun Indonesia. Kalau Presiden Soekarno masih hidup beliau pasti bangga , karena bangsa Indonesia telah mandiri.
Hanya saja dalam kaca mata saya, banyak PNS belum memahami arti ABDI NEGARA seutuhnya. Menjadi PNS tidaklah mungkin akan memiliki sebuah Toyota Alphat ataupun unit di Pakubuwono Residence dengan mengharapkan penghasilan dari Negara semata. Begitu pula dengan Pegawai Swasta, untuk mendapatkan hal yang sama mungkin hanya segelintir yang bisa dan itupun sudah menduduki posisi yang strategis dalam perusahaan. Menjadi pengusaha juga butuh waktu untuk mendapatkan kemewahan semua. Karena itu dalam benak PNS dan tentunya dalam benak seluruh elemen bangsa harus dicantumkan dan ditanamkan dalam sanubari bahwa kesejahteraan bersama harus didahulukan tanpa menafikan hasil kerja keras orang yang ternyata lebih baik dari sisi ekonomi.
Saya berharap kesadaran bahwa menjadi ABDI NEGARA bukanlah menjadi penguasa tapi menjadi pelayan. Bangsa ini menanti agar mereka yang diberi kekuasaan bertanggungjawab kepada NEGARA .SEUTUHNYA bukan kepada salah satu unsur negara saja.
Semoga....
Remunerasi yang secara langsung akan menambah penghasilan PNS yang pastinya akan membuat Animo peminat PNS akan bertambah dari tahun - tahun ini akan secara tidak langsung mempengaruhi psikologis angkatan kerja kita bahwa menjadi PNS menjadi segalanya.
Fenomena menjadi PNS telah melekat di masyarakat kita yang berlomba - lomba mengikuti seleksi menjadi PNS, ini menarik di cermati pemerintah bahwa menjadi PNS dengan segala motivasinya yang melekat pada pribadi masing-masing individu.
Seharusnya pekerjaan PNS dijadikan sarana untuk pengabdian terhadap bangsa dan negara ini. seolah-olah dengan adanya aturan remunerasi PNS baru bekerja keras kalau sudah mendapatkan pendapatan yang besar. padahal mereka seharusnya sebelum mengikuti seleksi secara sadar tahu akan konsekuensi menjadi PNS. Dengan mengetahui konsekuensi menjadi PNS, apakah pantas kesejahteraan menjadi alasan untuk tidak professional..??
Menjadi PNS harus siap menjadi abdi masyarakat, harus siap menjadi pelayan masyarakat, harus siap untuk menjaga segala tingkah laku dan sikap di hadapan masyarakat. Tidak bisa semena-mena dan arogan kepada rakyat ataupun merasa lebih dari masyarakat terutama rakyat kecil.
Menjadi PNS tidak sekedar datang pagi-pagi jam 7 untuk apel pagi lalu nongkrong di warung dan setelah agak siang tidur di mushola dan jam 3 sudah bersiap untuk pulang dan bila diberi pekerjaan memilah milah mana pekerjaan yang ada uangnya dan mana yang tidak.
Sekali lagi bukan itu tujuan menjadi PNS.
Seragam PNS bukan dipakai untuk petentang petenteng. Seragam PNS adalah tanggung jawab besar untuk Negara dan Rakyat yang membayar. Bahkan menjadi Pejabat Birokrasi, semakin tinggi jabatannya berarti semakin besar pelayanan yang diberikan untuk Negara, Masyarakat hingga bawahannya, bukan malah sebaliknya.
Saya menunduk hormat untuk PNS yang bersedia berbakti pada masyarakat, para guru dan tenaga medis di tempat terpencil yang dengan segala keterbatasannya tetap mengabdi untuk masyarakat. Untuk GTT dan PTT yang juga mengabdi penuh pada masyarakat janganlah menjadi PNS menjadi tujuan utama anda, karena niat dan kerja anda yang mulia kelak akan tercoreng pada niat materiil semata. Hati masyarakat yang terbantu oleh pengabdian andalah yang akan selalu membuat anda lebih mulia dan terhormat.
Dari logo KORPRI yang dipakai sebagai lencana didada kiri PNS terdapat satu kalimat yang cukup magis : ABDI NEGARA. Kalimat tersebut ingin menunjukkan bahwa KORPRI adalah wadah dari para pengabdi negara. ABDI NEGARA tidak dapat dipahami hanya sebagai abdi dari pemerintah. PNS perlu memahami bahwa unsur dari negara bukan hanya Pemerintah tapi juga warga negara. Pengertian Abdi Negara bukan berarti kekuasaan tapi malah sebaliknya pelayanan . Pelayanan kepada Negara yang berisi Pemerintah, Warga Negara , Wilayah dan unsur-unsur lainnya.
Tidak ada tempat bagi seorang Abdi Negara, apalagi dalam Negara Kesatuan RI ,untuk menjadi seorang penguasa. Seluruh elemen bangsa ini adalah Abdi Negara. Cerminan yang paling kasat mata adalah refleksi APBN. Elemen bangsa ini harus berbangga karena APBN RI lebih dari 70% telah didanai dari Pajak. Artinya setiap anak bangsa mempunyai peran dan andil dalam membangun Indonesia. Kalau Presiden Soekarno masih hidup beliau pasti bangga , karena bangsa Indonesia telah mandiri.
Hanya saja dalam kaca mata saya, banyak PNS belum memahami arti ABDI NEGARA seutuhnya. Menjadi PNS tidaklah mungkin akan memiliki sebuah Toyota Alphat ataupun unit di Pakubuwono Residence dengan mengharapkan penghasilan dari Negara semata. Begitu pula dengan Pegawai Swasta, untuk mendapatkan hal yang sama mungkin hanya segelintir yang bisa dan itupun sudah menduduki posisi yang strategis dalam perusahaan. Menjadi pengusaha juga butuh waktu untuk mendapatkan kemewahan semua. Karena itu dalam benak PNS dan tentunya dalam benak seluruh elemen bangsa harus dicantumkan dan ditanamkan dalam sanubari bahwa kesejahteraan bersama harus didahulukan tanpa menafikan hasil kerja keras orang yang ternyata lebih baik dari sisi ekonomi.
Saya berharap kesadaran bahwa menjadi ABDI NEGARA bukanlah menjadi penguasa tapi menjadi pelayan. Bangsa ini menanti agar mereka yang diberi kekuasaan bertanggungjawab kepada NEGARA .SEUTUHNYA bukan kepada salah satu unsur negara saja.
Semoga....
Selasa, 07 September 2010
SEBUAH RENUNGAN DI AKHIR RAMADHAN
Ya Allah…..
malam nuzulul quran hampir terlewati, tapi seperti kebiasaan saya masih belum sempat menuntaskan khatam Al-Quran,
ya Allah
maaf kalau hamba terlalu banyak bertanya, maaf juga kalau berdoa tanpa sopan santun, hamba memang makhluk yang lancang,
ya Allah,
ramadhan akan segera berakhir, pasar mulai ramai, baju-baju baru dikejar dalam berbagai model, sebentar lagi acara syawalan, silaturahmi, hingga halal bi halal akan menjadi ladang bisnis para ustadz, acara bersanda gurau, hingga -mungkin saja- hilang tujuan awal dari puasa,
ya Allah,
maafkan hambaMu ini yang dengan tega menduakan Engkau,
hamba lebih lama bersanda gurau, menghabiskan waktu di depan Internet, tak lepas dari ponsel hingga laptop,
ya Allah,
kini jari hamba setiap hari bertasbih di atas tombol-tombol unik berisi hutuf dan angka, hingga hamba lupa tasbih itu telah mulai usang,
Ya Allah,
bibir hamba bergerak, sesaat dahi mengkerut dan mata bersinar, sambil terus membaca apa yang ada dilayar, hingga hamba lupa Al Quran di atas lemari sudah mulai berdebu,
Ya Allah,
sehabis sahur, sehabis berbuka, menunggu buka, hamba lebih suka duduk di kursi membuka laptop dan berbaring di kasur memagang ponsel, hingga hamba lupa bahwa sajadah dan sarung sudah mulai usang dalam lemari,
Ya Allah,
ramadhan kali ini seperti sudah berakhir sebelum idul fitri, ramadah ini penuh keceriaan, melihat televisi acara komedi penuh tawa canda, hingga saling menghina dan mencerca seolah menjadi kebahagiaan,
ya Allah,
umatmu di indonesia ini bahagia sekali saat buka bersama, dari pinggir jalan hingga restoran, lihat ramadhan mempererat tali silaturahmi, hingga saat buka bersama tiba mereka sadar telah lupa maghrib hingga tarawih.
Ya Allah,
ramadhan ini orang-orang berbikini berlomba menyebut nama_Mu, dan meraih rupiah dari setiap download yang mereka tawarkan, adakah pemujaan terhadapMu menjadi ladang uang mereka dalam kemasan “religi”, berbagai acara diadakan, ada lomba menulis, sahur on the road, buka bersama, menyantuni anak yatim piatu, indah sekali…… nikmatnya berbagi…. seponsor butuh nama dan pelaku butuh dana…. mereka menikmati terima saja mungkin itu dimata hamba yang penuh noda…
Ya Allah…
ini sebenarnya ramadhan keberapa untukku, terakhirkah…. tolong jangan....
Ya Allah,
ramadhan ini hamba telah menduakan Engkau dalam kesombongan, menduakan ke-Tuhan-an Engkau dengan internet, menghabiskan lebih banyak waktu dengan dunia maya,
ya Allah
hamba sendiri terkadang takut menjuluki diri sebagai Hamba Engkau. hamba malu pada_Mu. Di benak ini seolah-olah terdengar suara Engkau, “Hai, Maskin..! Benarkah kamu hamba-Ku..? Tidakkah kamu adalah hamba internet..? Bukankah kamu keasyikan ngakses internet berjam-jam setiap hari..? Bukankah untuk menyembah Diriku melalui shalat, kamu melakukannya hanya beberapa menit setiap harinya..?”
ya Allah,
hidup hamba berada dalam kuasa_Mu, jiwa ini milik_Mu, hati ini KAU kuasai, apalah daya hamba sebagai manusia kecuali berusaha dan berdoa, hamba yang berlumuran dosa ini malu untuk meminta tapi hamba juga tak sanggup menanggung beban sebagai manusia sombong yang tak mau meminta…
ya Allah
idul fitri -katanya- hari kemenangan, tapi ramadhan ini sepertinya tidak berlaku, hamba telah kalah, kalah sebelum pertandingan berakhir… kalah karena ramadhan ini wajah hamba penuh topeng kemunafikan…
ya Allah
tolong jangan jadikan ramadhan ini ramadhan terakhir, hamba tak mau mengakhiri hidup dalam kekalahan di hari yang fitri…
ya Allah
Sang penguasa langit bumi dan seisinya, Engkau adalah Raja diraja, penguasa alam semesta, pemilik hati dan nyawa setiap manusia, maafkan hamba_Mu ini kalau tak bisa merayakan kemenangan di hari yang fitri, maafkan hamba_Mu yang kalah ini kalau hamba terlalu banyak mengeluh….
ya Allah
ampuni aku....
malam nuzulul quran hampir terlewati, tapi seperti kebiasaan saya masih belum sempat menuntaskan khatam Al-Quran,
ya Allah
maaf kalau hamba terlalu banyak bertanya, maaf juga kalau berdoa tanpa sopan santun, hamba memang makhluk yang lancang,
ya Allah,
ramadhan akan segera berakhir, pasar mulai ramai, baju-baju baru dikejar dalam berbagai model, sebentar lagi acara syawalan, silaturahmi, hingga halal bi halal akan menjadi ladang bisnis para ustadz, acara bersanda gurau, hingga -mungkin saja- hilang tujuan awal dari puasa,
ya Allah,
maafkan hambaMu ini yang dengan tega menduakan Engkau,
hamba lebih lama bersanda gurau, menghabiskan waktu di depan Internet, tak lepas dari ponsel hingga laptop,
ya Allah,
kini jari hamba setiap hari bertasbih di atas tombol-tombol unik berisi hutuf dan angka, hingga hamba lupa tasbih itu telah mulai usang,
Ya Allah,
bibir hamba bergerak, sesaat dahi mengkerut dan mata bersinar, sambil terus membaca apa yang ada dilayar, hingga hamba lupa Al Quran di atas lemari sudah mulai berdebu,
Ya Allah,
sehabis sahur, sehabis berbuka, menunggu buka, hamba lebih suka duduk di kursi membuka laptop dan berbaring di kasur memagang ponsel, hingga hamba lupa bahwa sajadah dan sarung sudah mulai usang dalam lemari,
Ya Allah,
ramadhan kali ini seperti sudah berakhir sebelum idul fitri, ramadah ini penuh keceriaan, melihat televisi acara komedi penuh tawa canda, hingga saling menghina dan mencerca seolah menjadi kebahagiaan,
ya Allah,
umatmu di indonesia ini bahagia sekali saat buka bersama, dari pinggir jalan hingga restoran, lihat ramadhan mempererat tali silaturahmi, hingga saat buka bersama tiba mereka sadar telah lupa maghrib hingga tarawih.
Ya Allah,
ramadhan ini orang-orang berbikini berlomba menyebut nama_Mu, dan meraih rupiah dari setiap download yang mereka tawarkan, adakah pemujaan terhadapMu menjadi ladang uang mereka dalam kemasan “religi”, berbagai acara diadakan, ada lomba menulis, sahur on the road, buka bersama, menyantuni anak yatim piatu, indah sekali…… nikmatnya berbagi…. seponsor butuh nama dan pelaku butuh dana…. mereka menikmati terima saja mungkin itu dimata hamba yang penuh noda…
Ya Allah…
ini sebenarnya ramadhan keberapa untukku, terakhirkah…. tolong jangan....
Ya Allah,
ramadhan ini hamba telah menduakan Engkau dalam kesombongan, menduakan ke-Tuhan-an Engkau dengan internet, menghabiskan lebih banyak waktu dengan dunia maya,
ya Allah
hamba sendiri terkadang takut menjuluki diri sebagai Hamba Engkau. hamba malu pada_Mu. Di benak ini seolah-olah terdengar suara Engkau, “Hai, Maskin..! Benarkah kamu hamba-Ku..? Tidakkah kamu adalah hamba internet..? Bukankah kamu keasyikan ngakses internet berjam-jam setiap hari..? Bukankah untuk menyembah Diriku melalui shalat, kamu melakukannya hanya beberapa menit setiap harinya..?”
ya Allah,
hidup hamba berada dalam kuasa_Mu, jiwa ini milik_Mu, hati ini KAU kuasai, apalah daya hamba sebagai manusia kecuali berusaha dan berdoa, hamba yang berlumuran dosa ini malu untuk meminta tapi hamba juga tak sanggup menanggung beban sebagai manusia sombong yang tak mau meminta…
ya Allah
idul fitri -katanya- hari kemenangan, tapi ramadhan ini sepertinya tidak berlaku, hamba telah kalah, kalah sebelum pertandingan berakhir… kalah karena ramadhan ini wajah hamba penuh topeng kemunafikan…
ya Allah
tolong jangan jadikan ramadhan ini ramadhan terakhir, hamba tak mau mengakhiri hidup dalam kekalahan di hari yang fitri…
ya Allah
Sang penguasa langit bumi dan seisinya, Engkau adalah Raja diraja, penguasa alam semesta, pemilik hati dan nyawa setiap manusia, maafkan hamba_Mu ini kalau tak bisa merayakan kemenangan di hari yang fitri, maafkan hamba_Mu yang kalah ini kalau hamba terlalu banyak mengeluh….
ya Allah
ampuni aku....
Rabu, 01 September 2010
SEBUAH RENUNGAN DI AWAL RAMADHAN
Pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan fitri. Pada semua bayi yang akan dilahirkan, Allah meniupkan ruh-Nya, sehingga manusia mendapatkan “warisan” sifat-sifat Allah dan jiwa yang cenderung pada sifat-sifat ilahiyah (nafs muthma’innah). Namun, manusia tumbuh dalam lingkungan yang tidak seluruhnya mendukung tegaknya kefitrian manusia itu. Dalam diri manusia sendiri ada sifat-sifat kebinatangan yang cenderung mendorong manusia pada keangkaramurkaan, egoisme, dan keserakahan. Sifat kebinatangan itu juga cenderung mendorong manusia ke arah yang serba berlebihan. Makan-minum berlebihan, meneguk kenikmatan seksual secara berlebihan, meraup kekuasaan secara berlebihan, dan seterusnya.
Kecenderungan-kecenderungan kebinatangan itulah yang ditekan dan dikendalikan oleh ibadah shiam (puasa), tetapi tidak meniadakannya sama sekali. Shiam adalah ibadah yang memiliki dimensi kejiwaan yang sangat kuat. Inilah lembaga pelatihan bagi manusia untuk mengendalikan egoisme, keserakahan, dan keangkaramurkaan. Selama sebulan penuh manusia ditempa agar kembali kepada fitrahnya, kembali pada manusia yang cenderung pada ruh Allah yang ditiupkan saat masih berada dalam kandungan ibu.
Di dalam jiwa manusia ada tiga tingkatan nafs yang disebut nafs muthma’innah (jiwa yang cenderung kepada sifat-sifat indah ketuhanan), nafs lawwamah (jiwa yang berada di tengah-tengah antara ketuhanan dan kebinatangan), dan nafs ammarah (jiwa yang cenderung pada nafsu-nafsu hewani). Sebagian besar jiwa manusia berada dalam nafs lawwamah, di mana manusia berada dalam kondisi “bolak-balik” antara kecenderungan pada sifat-sifat ilahiah dan nafsu-nafsu hewani.
Dengan berlatih sebulan penuh dalam setahun, manusia diharapkan mampu kembali ke kondisi fitrahnya, menjadi manusia baru yang lebih cenderung kepada sifat-sifat ilahiyah. Bila berhasil melewati pelatihan ini dan berhasil kembali ke kondisi fitrinya, manusia layak merayakannya dengan Idul Fitri. Inilah perayaan di mana manusia berhasil mengalahkan kecenderungan-kecenderungan hewaninya yang berlebihan. Inilah perayaan ketika seseorang telah berhasil menjadi manusia baru. Karena itulah, muncul tradisi berpakaian baru pada setiap Idul Fitri sebagai simbol lahirnya manusia baru.
Keberhasilan menjadi manusia baru yang fitri itu diharapkan mampu membawa manusia kepada sikap-sikap ilahiyah dalam melaksanakan aktivitas selama setahun sesudahnya. Namun, sifat-sifat hewani pada manusia akan sangat mungkin kembali bangkit dan menguasai jiwa manusia selama perjalanan hidupnya dalam setahun. Untuk itulah pelatihan ini diulang kembali sebulan penuh pada ramadhan berikutnya.
Allahu A’lam...
Kecenderungan-kecenderungan kebinatangan itulah yang ditekan dan dikendalikan oleh ibadah shiam (puasa), tetapi tidak meniadakannya sama sekali. Shiam adalah ibadah yang memiliki dimensi kejiwaan yang sangat kuat. Inilah lembaga pelatihan bagi manusia untuk mengendalikan egoisme, keserakahan, dan keangkaramurkaan. Selama sebulan penuh manusia ditempa agar kembali kepada fitrahnya, kembali pada manusia yang cenderung pada ruh Allah yang ditiupkan saat masih berada dalam kandungan ibu.
Di dalam jiwa manusia ada tiga tingkatan nafs yang disebut nafs muthma’innah (jiwa yang cenderung kepada sifat-sifat indah ketuhanan), nafs lawwamah (jiwa yang berada di tengah-tengah antara ketuhanan dan kebinatangan), dan nafs ammarah (jiwa yang cenderung pada nafsu-nafsu hewani). Sebagian besar jiwa manusia berada dalam nafs lawwamah, di mana manusia berada dalam kondisi “bolak-balik” antara kecenderungan pada sifat-sifat ilahiah dan nafsu-nafsu hewani.
Dengan berlatih sebulan penuh dalam setahun, manusia diharapkan mampu kembali ke kondisi fitrahnya, menjadi manusia baru yang lebih cenderung kepada sifat-sifat ilahiyah. Bila berhasil melewati pelatihan ini dan berhasil kembali ke kondisi fitrinya, manusia layak merayakannya dengan Idul Fitri. Inilah perayaan di mana manusia berhasil mengalahkan kecenderungan-kecenderungan hewaninya yang berlebihan. Inilah perayaan ketika seseorang telah berhasil menjadi manusia baru. Karena itulah, muncul tradisi berpakaian baru pada setiap Idul Fitri sebagai simbol lahirnya manusia baru.
Keberhasilan menjadi manusia baru yang fitri itu diharapkan mampu membawa manusia kepada sikap-sikap ilahiyah dalam melaksanakan aktivitas selama setahun sesudahnya. Namun, sifat-sifat hewani pada manusia akan sangat mungkin kembali bangkit dan menguasai jiwa manusia selama perjalanan hidupnya dalam setahun. Untuk itulah pelatihan ini diulang kembali sebulan penuh pada ramadhan berikutnya.
Allahu A’lam...
Langganan:
Postingan (Atom)